Jika kelak aku menua
Pintaku padaMu Tuhan..
Tolong sisakan satu ruang kecil di otakku,
tempatku bisa mengingat dirinya.
Amin
Mendaki Sunyi
Rabu
Terobati
Masih berpijak aku di retakan itu
Berdiri di ujung jemari
Lelah.
Aku berdiri untuk kesekian kalinya
Lalu terjatuh entah untuk kali keberapa
Luka.
Dengan air mata
Luka-luka itu kuobati.
Sssssttt.....
Ssssttt...
Ini hanya antara kau dan aku saja
"Tadi malam aku mengkhianati langit.
Setelah kukulum kata-kata
berjanji malu-malu padanya
untuk segera menunaikan harap."
Tapi hujan semalam merimisnya hingga hilang jejak.
Tak yakin.
Mungkin kali ini langit akan kembali memerah.
Menjejak Namamu
sebagai seekor ulat di batu
menjejakkan beberapa tetes kesedihan
menunggu matamu menatap walau sebentar
mungkin ketika kau mencoba menggapai angin
aku tetap mendengkur dalam peradaban yang terasing
biar saja.
aku akan selalu merangkai kata-kata
untuk kutulis di sebuah kaca
menjadi sajak paling indah yang memuat namamu
jika nanti aku tak kembali pada senja milik malam
biarkan aku tetap menulis
mengaiskan sisa-sisa masa lalu
walau kini engkau entah dimana
biarkan aku menjadi seekor ulat
mencari alamatmu di bebatuan.
Seperti Di Etalase
Seperti di etalase
Aku hanya manekin yang tergugu, tanpa rindu
Melihatmu tergesa di trotoar
Menjemput cinta yang segera ingin kau tunaikan
Mungkin aku telah membatu.
Senja Tak Selalu Bening
Senja tak selalu bening
Ada nganga luka di sana
Mungkin berdarah-darah
Membuat senja akhirnya memerah
Langganan:
Komentar (Atom)